Yeni's Blog

just for fun *plaaak :D

Cerpen(?) Ke tiga ku!! Menanti Sang Fajar :D 23 Januari 2011

Filed under: ocehan gaje XD — beehyeni @ 7:47 PM
Tags: , , ,

Hai teman2 di manapun kalian berada….

Kali ini gw mau posting soal cerpen gw. Di bilang cerpen sih, tapi isinya panjang amat buat di bilang cerpen. Di bilang novel, cuman 6 lembar kalau di print. *Belum selesai sih..*

So, intinya gw mau share aja tentang cerpen/novel/cerita bersambung/ atau apalah namanya ini..

Please comment, kasih saran and pendapat yaaah~~~~😀

MENANTI SANG FAJAR

 

Ai. Cewek manis berambut hitam panjang yang selalu mengikat rambutnya. Jarang sekali ia menggerai rambut lurusnya itu. Anak yang selalu ceria namun sayangnya kemampuan otaknya sedikit di bawah rata-rata. Namun walaupun begitu untunglah ada teman dekatnya yang baik hati mau mengajarkan gadis itu. Si jenius yang menjadi kebanggaan semua orang. Hotaru.

Hotaru. Cowok jenius berambut merah, yang sangat tampan. Jarang tersenyum pada orang lain kecuali pada Ai. Walaupun begitu, dia suka menyembunyikan perasaannya dan membuat orang lain salah sangka. Omongannya pedas dan  tepat sasaran. Pembawaannya tenang dan sangat bertolak-belakang dari Ai. Walaupun begitu mereka tetap menjadi teman baik dari masih bayi sampai saat ini.

Mereka berdua dekat sekali. Hotaru adalah idola di sekolahnya. Tipe laki-laki yang banyak digemari perempuan. Kedekatan mereka membuat Ai mempunyai banyak musuh. Para cewek-cewek genit selalu mengancam Ai agar segera menjauhi Hotaru. Namun Ai tidak peduli. Dia tetap ingin dekat dengan laki-laki itu. Laki-laki yang sudah membawa kehangatan di setiap hari-harinya.

“Hotaru, hari ini mamaku masak nasi goreng spesial looh.” Pamer Ai pada temannya itu. Saat itu adalah jam istirahat bagi siswa siswi SMA Cross Academy. Hotaru yang ada di sebelah Ai tetap cuek sambil membereskan buku-bukunya.

“Nanti jangan minta yaah… awas looh!” ancam Ai.

“Ga bakal deh, aku juga udah punya kok.” Jawab Hotaru santai.

“Bener yaah… awas loh ntar!” kata Ai sambil menjulurkan lidahnya.

Hotaru tetap cuek. Setelah selesai membereskan bukunya ia segera pergi menuju kantin sambil membawa bekalnya. Sekilas ia melihat ke arah Ai yang tampak gelisah. “Huh, dasar anak bodoh..” katanya.

Suasana kantin sangat ramai dengan segala hiruk-pikuknya. Suara tawa membahana memekakkan telinga. Hotaru duduk sendiri di sudut kantin. Tidak ingin acara makan-makannya diganggu oleh para fans fanatiknya. Tak lama kemudian dia melihat Ai datang dengan wajah merah, mendekatinya.

“Mana nasi goreng spesial yang kamu banggakan itu?” ejek Hotaru yang melihat bahwa Ai tidak membawa bekal.

“Eng… ada kok!”

“Oh, yaudah.” Hotaru kembali melanjutkan makannya. Ai menatapnya dengan tatapan mengharap. Rupanya Ai lupa membawa bekal makanannya. Dan parahnya lagi, dia juga lupa membawa uang jajannya. Dia duduk terdiam di samping Hotaru, sambil menundukkan kepala.

“Kenapa ga makan? Lupa bawa yah, dasar bodoh banget!” ejek Hotaru.


“Apa sih.. aku bawa yah, cuma ga mau kasih liat kamu aja!” elak Ai. Wajahnya semakin memerah. Dari tadi perutnya sudah ribut minta makan. Namun karena gengsi dia menahan itu semua.

“Uuh….” Ai berusaha sekuat tenaga untuk menahan rasa laparnya. Dia gelisah sambil memegangi perutnya dan bergerak-gerak liar di sebelah Hotaru. Laki-laki itu menghela napas dalam. Dia sudah kenal gelagat dari temannya ini. “Nih..” kata Hotaru sambil menyodorkan bekal makanannya.

“Eh?” Ai kaget, sepertinya Hotaru tahu kalau dia kelaparan. “Yah, walaupun bukan nasi goreng spesial buatan Ibumu, tapi setidaknya bisa menghilangkan lapar mu,” kata cowok berambut merah itu. Ai merasa malu, padahal tadi dia sudah berbuat jahat pada hotaru, namun laki-laki itu tetap bersikap baik padanya. Ai tersenyum, “Maaf, dan terima kasih yaa…”

Hotaru tersenyum, “Yah, apa boleh buat. Ini sudah resiko punya teman ceroboh sepertimu.” Ai cemberut. Namun di dalam hatinya, ia sangat senang dan berterima kasih pada orang yang paling disayanginya itu.

Begitulah hari-hari yang dilalui Ai dan Hotaru. Ai gadis yang ceroboh, dan selalu tidak mau kalah. Anaknya keras kepala. Akibat sifatnya itu, dia sering bertengkar dengan Hotaru. Namun, pertengkaran mereka bukan pertengkaran yag mengarah pada perpecahan, namun justru semakin mendekatkan mereka. Saat-saat yang sangat indah.

***

Hari-hari berjalan seperti biasa. Cuaca cerah seperti biasanya. Di hari senin itu, Ai tampak lemas. Sahabatnya tidak masuk sekolah. Katanya sih karena ada acara keluarga. Ai ingin cepat-cepat pulang dan menemui sahabatnya itu. Karena itulah, begitu bel pulang berbunyi, dengan kecepatan luar biasa, dia segera melesat menuju rumahnya agar bisa bertemu dengan Hotaru.

***

Jalanan tampak ramai. Mobil besar dan beragam tas serta koper sudah siap sedia di halaman depan rumah keluarga Hotaru. Para tetangga membantu proses pindahan, sedangkan selebihnya berjejer sambil memegangi poster bertuliskan ‘Bintang Desa’, ‘Harapan Desa’, dan berbagai poster bertuliskan kata-kata perpisahan. Hari itu Hotaru akan pindah ke sekolah yang ada di kota besar. Sekolah itu merupakan sekolah khusus, dan hanya anak-anak ‘khusus’ saja yang bisa masuk ke sana. Sekolah itu mengirimkan undangan ke rumah hotaru. Seperti sekolah Hogwarts yang mengirimkan surat pada muridnya yang sudah tiba waktunya untuk datang kesana.

“Ayo, hotaru. Hati-hati ya nanti di sana. Mama sayang kamu,” hotaru dan mamanya pun berpelukan. Dengan berat hati, akhirnya mamanyapun melepas pelukan Hotaru, dan dengan itu juga dia telah rela melepas kepergian Hotaru ke sekolah barunya. Sekolah itu memiliki asramanya sendiri. Dan seluruh siswa wajib tinggal di asrama dan tidak boleh pulang ke orang tuanya kecuali pada penghujung tahun. Itupun hanya sebentar, setelah itu harus langsung kembali ke sekolah. Mama hotaru menangis tersedu-sedu sambil mengiringi kepergian anaknya.

“Hotaruuu!!!! Tunggu dulu kau bodoooh!!!!” Ai datang sambil berlarian masih dengan menggunakan seragam sekolahnya. Hotaru melihat gadis itu semakin mendekat ke arahnya.

“Kau berlari sambil menangis yah, lucu sekali.”

“Apanya yang lucu! Apa-apaan surat ini?” Ai yang wajahnya mulai dibasahi butir-butir airmata pun segera mengeluarkan kertas dari sakunya. Kertas yang membuatnya sangat kaget dan langsung berlari menuju rumah Hotaru.

 

 

Untuk Ai.

Maaf selama ini aku sudah banyak menyusahkanmu. Walaupun sepertinya kau yang paling banyak menyusahkanku sih. Aku cuma mau bilang kalau aku akan pindah dari sini. Ada sekolah bagus dan ada asramanya juga. Aku akan pindah kesana dan juga tinggal disana. Oh ya. Sekolah itu namanya Cross Academy looh, sekolah yang hebat. Disana ada SD, SMP, dan SMA nya. Selain itu ada universitasnya juga.

Oke sekian dulu. Kuharap kamu ga menangis ya..

Salam, hotaru.

 


Ai masih hafal dengan isi surat itu. Tapi dia tidak bisa menahan airmatanya untuk tidak turun. Bagaimanapun juga, hotaru sudah keterlaluan. Kenapa dia memberikan surat di saat-saat terakhir begini? Ai merasa kesal dengan itu semua.

 

“Kenapa baru sekarang ngasih suratnyaaaaaa????” tanya Ai setelah jeda yang cukup lama.

“Karena kau pasti akan menangis kan?”

“Tapi aku kan pengen tau. Apa kau sama sekali tidak menganggapku sebagai teman??” airmata Ai semakin deras mengalir.

“Aku tidak pernah berpikir begitu kok. Hanya saja, kalau aku bilang dari awal, kau bakal menghalangi kepergianku kan?” Ai terdiam. Betul juga yang dikatakan Hotaru. Dia pasti akan mencoba menghalangi kepergian sahabatnya itu. Dia ingin Hotaru selalu berada di sampingnya. ‘Tapi itu tidak mungkin kan? Kalau aku melakukan itu, sama saja artinya aku ini egois dan tidak mementingkan perasaan Hotaru. Aku memang gadis bodoh.’ Kata Ai di dalam hati. Gadis itu menundukkan kepalanya. Airmata tak henti-hentinya keluar dari mata gadis itu. Badannya gemetar. Bukti bahwa sedang terjadi pergolakan batin dalam hatinya.

“Aku…” hotaru menarik tangan Ai, dan segera memeluk gadis itu. Menyandarkannya ke bahunya yang bidang.

“Aku pasti akan kembali kok, tenang saja.” Katanya dengan lembut. Ai menangis tersedu-sedu. “Tapi kau bilang disana juga ada universitasnya. Kalau begitu kapan kau akan pulang?” hotaru mengerti perasaan Ai yang tidak mau berpisah darinya. Begitu juga Hotaru, namun negara sudah mengincarnya dan dia,—mau bagaimanapun juga—harus sekolah di sana. Hotaru mempererat pelukannya. Mengangkat tangannya dan mulai mengelus-elus rambut gadis itu dengan lembut.

“Aku pasti pulang kok. Kata mereka, kalau jadi anak baik, maka akan mendapat bonus dan bisa pulang. Selain itu kita juga bisa surat-suratan kok. Ya kan?” Ai mengangguk. Perlahan-lahan Hotaru melonggarkan pelukannya. Kemudian ia menatap Ai. Gadis itu balas menatapnya. Wajahnya merah dan basah akibat air mata.

“Kamu jangan menangis lagi yah,” kata hotaru sambil menghapus airmata Ai dengan tanga kanannya. Sedangkan tangan kirinya memegangi pipi gadis itu. Membuatnya pipi Ai bersemu merah. “Aku, suka kamu yang sedang tertawa. Wajahmu manis sekali. Tertawalah Ai. Tersenyumlah walaupun aku tidak ada disini. Setidaknya itu akan membuatku tenang.” Hotaru tersenyum. Senyum bagai malaikat yang akan segera meninggalkan Ai seorang diri. Malaikat yang akan pergi jauh dan entah kapan bisa bertemu lagi.

Ai buru-buru menghapus airmatanya. “Aku akan tersenyum. Aku tidak akan menangis lagi. Itu semua demi hotaru. Agar kamu cepat pulang dan kita bisa bersama-sama lagi.” Ai tersenyum. Senyuman yang paling manis diantara semua senyuman Ai untuknya. Hotaru balas tersenyum dan menatap mata Ai lekat-lekat.

“Kamu janji?”

“Hmm.” Ai mengangguk mantap. “Aku janji.”

 

 

 

***

Langit sore itu tampak mendung. Awan-awan hitam bergulung-gulung di atas langit Desa Raya. Berpuluh-puluh orang yang mengiringi kepergian ‘Bintang Desa’ terdiam menyaksikan perpisahan yang mengharukan itu. Tak lama kemudian mobil-mobil yang membawa hotaru pun segera pergi menuju dunia yang sangat berbeda dari dunia yang ada di desa mereka. Walaupun perpisahan itu sangat berat, namun kepergian Hotaru diiringi doa dan senyuman dari semua orang, terutama dari Ai. Selalu Ai. Hanya gadis itu yang penting baginya. Tentu saja orang yang penting selain kedua orangtuanya.

Matahari mulai memudarkan cahayanya. Bersiap untuk kembali ke peraduan malamnya. Bulan perlahan-lahan muncul menggantikan singgasana emas sang Mentari. Orang-orang mulai kembali ke rumahnya masing-masing. Namun, Ai masih tetap di sana. Memandang ke arah perginya mobil-mobil itu, seakan tiba-tiba mobil-mobil itu akan kembali lagi. Dan membawa Hotaru kembali padanya lagi.

Hari sudah mulai gelap. Angin dingin menusuk-nusuk di kulit. Dengan langkah lemas, Ai perlahan-lahan mulai kembali ke rumahnya. Berdoa agar hotaru tidak lupa akan janjinya untuk kembali, dan berdoa agar orang yang disayanginya itu selalu bahagia di tempat barunya nanti. Dia hanya bisa menunggu, menunggu mataharinya untuk kembali padanya. Menanti hari esok agar segera tiba. Hari di mana ketika Hotaru akan datang, dengan sikap ‘cool’ nya, menanti saat-saat di mana cowok itu mengejeknya dan bertengkar dengannya. Saat-saat yang menyenangkan. Kenangan itu akan selalu ia simpan di dalam hatinya. Tak akan lekang oleh waktu.

 

Yak…. segini dulu cerita Ai dan Hotarunya… Masih to be continued sih, ide nya udah ada di kepala tapi sulit diungkapkan dgn kata2 *Haha, lebay gw*

Mohon comment,kritik,dan sarannya..

Arigatou~~~😀😀

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s